Ketika kebetulan lalu
aku mampir ke kamar kita yang dulu
Sekarang belum lagi disewa
Kamar kita berdua
Dengan bunga pada meja
tempat kita saling memandang
berhawa kasih sayang
memasuki kamar ini
tembok dan lantai kembali bicara
dan hidupku terasa lebih berharga
Kukenang kembali
bagaimana kau dulu kujamah rambutmu
sementara kau bertanya
berapa jumlah pacarku
Lalu di lantai yang sejuk
dan juga bersih karena kau sapu
kita akan bertiarap atau berbaringan
sambil menggambar dengan kapur
semua gambar yang lucu-lucu
atau rumah yang kita angankan
Pernah pula kau gambar dua orang berdampingan
Sambil kau tunjuk mereka:
“Ini kau. Ini aku”
Lalu saya gambar selusin orang di kanan kirinya
Kau merenggut dan bertanya:
“Siapa mereka?”
aku menjawabmu: “Anak-anak kita”
Ketika kau tertawa
tergerailah rambut-rambut halusmu
ke pipi dan ke dahimu
Waktu itu aku gemar memandang matamu
Dan melihat diriku terkaca di dalamnya
Kekasihku,
ada saat-saat kita tak berdaya bukan oleh duka
tetapi karna terharu semata
Mengharukan dan menyenangkan
bahwa sementara kita tempuh hari-hari yang keras
sesuatu yang indah masih berada
tertinggal pada kita
Sangat mendebarkan
menemukan satu bunga
yang dulu . . . telah lama
Kitalah penanamnya.
(WS Rendra)
Terima kasih untuk istriku tercinta yg telah mengirimkan puisi indah ini. Akan selalu kita kenang masa-masa susah ini kelak. Tetap ceria menjalani hidup ini. Kita berdua; Kau dan Aku.
Tampilkan postingan dengan label Puisi hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi hari ini. Tampilkan semua postingan
Kamis, November 18, 2010
Rabu, Mei 12, 2010
Renungan Senja
aku letih menghardik dalam kelam
menyumpah pada sampah
atau melempar tanya pada sang serakah
aku ingin diam sejenak
lari dari temaram senja
berkeluh kesah pada Sang Maha Bijak
berdua saja
hanya kami berdua
aku dan DIA
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 12 Mei 2010
menyumpah pada sampah
atau melempar tanya pada sang serakah
aku ingin diam sejenak
lari dari temaram senja
berkeluh kesah pada Sang Maha Bijak
berdua saja
hanya kami berdua
aku dan DIA
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 12 Mei 2010
Kamis, April 22, 2010
satu pesan (2)
dari kelam ke kelam lagi
dalam hari kita terkekang
penjara dunia tak berkesudah
jangan bermurung
jangan berandai
ini hidangan hidup mesti disantap
dilakoni dalam sabar
tak muluk
biasa saja
pelihara senyum dan tawa itu
jaga ia selalu
di dalam gubuk kecil kita
sepanjang waktu
Bang Jenggot
Batavia Darusysyaitan, 22 April 2010
dalam hari kita terkekang
penjara dunia tak berkesudah
jangan bermurung
jangan berandai
ini hidangan hidup mesti disantap
dilakoni dalam sabar
tak muluk
biasa saja
pelihara senyum dan tawa itu
jaga ia selalu
di dalam gubuk kecil kita
sepanjang waktu
Bang Jenggot
Batavia Darusysyaitan, 22 April 2010
Senin, Maret 01, 2010
satu pesan
yang ku ingin hanya
: suatu hari setelah sekarang
saat malam menjelang
aku pulang
kau sambut dalam senyum riang
di rumah sederhana kita
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 01 Maret 2010
: suatu hari setelah sekarang
saat malam menjelang
aku pulang
kau sambut dalam senyum riang
di rumah sederhana kita
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 01 Maret 2010
Jumat, Februari 12, 2010
Biar Mati Badanku Kini
Biar mati badanku kini
Payah benar menempuh hidup
Hanya khayal sepanjang hidup
Biar muram pusaraku sunyi
Cucuk kerah pudingnya redup
Lebih nyaman tidur di kubur
(Hamka, 1945)
Payah benar menempuh hidup
Hanya khayal sepanjang hidup
Biar muram pusaraku sunyi
Cucuk kerah pudingnya redup
Lebih nyaman tidur di kubur
(Hamka, 1945)
Rabu, Februari 10, 2010
Radja Naik Mahkota Ketjil
(DN Aidit)
Udara pagi ini tjerah benar
pemuda njanji nasakom bersatu
gelak ketawa gadis remadja
mendengar silalim naik tachta,
tapi konon mahkotanja ketjil.
Buruh dipabrik tani diladang
ibuibu menjusui anak
tibatiba nafas terlepas lega
mendengar siradja naik tachta,
tapi konon mahkotanja ketjil.
Ini pertanda zaman kita
jang lapuk terpaksa turun
jang baru terus membaru
bagi jang lama sudah magrib
baik jang baru mentari naik.
Ajo, madju terus kawan-kawan
halau dia kedjaring dan djerat
tangkap dia dan ikat erat
hadapkan dia kemahkamah Rakjat!
Djakarta, 23 Djuni 1962.
Udara pagi ini tjerah benar
pemuda njanji nasakom bersatu
gelak ketawa gadis remadja
mendengar silalim naik tachta,
tapi konon mahkotanja ketjil.
Buruh dipabrik tani diladang
ibuibu menjusui anak
tibatiba nafas terlepas lega
mendengar siradja naik tachta,
tapi konon mahkotanja ketjil.
Ini pertanda zaman kita
jang lapuk terpaksa turun
jang baru terus membaru
bagi jang lama sudah magrib
baik jang baru mentari naik.
Ajo, madju terus kawan-kawan
halau dia kedjaring dan djerat
tangkap dia dan ikat erat
hadapkan dia kemahkamah Rakjat!
Djakarta, 23 Djuni 1962.
Selasa, Februari 09, 2010
izinkan aku bicara kali ini
izinkan aku bicara kali ini, Tuan
atas segala gelisah yang meresahkan hati
apalah guna setumpuk kebenaran?
jikalau hanya kau timbun di sisi meja kerjamu
apalah guna ratusan pasukan dan senjata terbaikmu?
jikalau hanya disandarkan di depot mewah itu
apalah guna segala macam jargon-jargon dan publikasi itu?
jikalau hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu yang sesaat
tak ada guna itu semua
marilah kembali berlari kencang
kita beri yang terbaik, biarlah mereka menilai
sangkur-sangkur ini sudah haus darah
kita butuh berjuta kemenangan lagi!
tugasmu hanya dua
tunjukkan arah dan sedikit bicara
dan seperti yang selalu kubilang
: aku selalu siap!
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 09 Februari 2010
atas segala gelisah yang meresahkan hati
apalah guna setumpuk kebenaran?
jikalau hanya kau timbun di sisi meja kerjamu
apalah guna ratusan pasukan dan senjata terbaikmu?
jikalau hanya disandarkan di depot mewah itu
apalah guna segala macam jargon-jargon dan publikasi itu?
jikalau hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu yang sesaat
tak ada guna itu semua
marilah kembali berlari kencang
kita beri yang terbaik, biarlah mereka menilai
sangkur-sangkur ini sudah haus darah
kita butuh berjuta kemenangan lagi!
tugasmu hanya dua
tunjukkan arah dan sedikit bicara
dan seperti yang selalu kubilang
: aku selalu siap!
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 09 Februari 2010
Selasa, Februari 02, 2010
sesosok makhluk dari masa lalu
kau, sahabat dari masa lalu
menyeruak dalam tabir sendu
sinar matamu penuh haru
menyentuh lembut dinding jiwaku
sepuluh tahun berlalu
banyak kembang tumbuh dan layu
tanpa kusadar ternyata kau masih di situ
tetap bertahan dan menunggu
kucoba ingat kala itu
ketika aku dan kau masih lugu
bergetar hati ini melihat matamu
bukan takut, tetapi malu
andai kau tahu
sekeranjang suratmu dulu
masih tersimpan rapi di rak buku
ia akan tetap di situ
kini, di awal tahun yang baru
hapus segala sakit dan galau itu
tersenyumlah dan bangkit untukku
hilangkan segala sangsi dan ragu
dari dulu, kau tahu siapa aku
tak banyak yang kumampu
jangankan kapal, perahu tiada aku
pasukanku hanya nyali dan semangat menggebu
kau yang anggun dalam kerudung biru
tegakkan kepalamu
tataplah lekat padaku
melangkah yakin disampingku
temani dan redam aku
atas segala mimpi dan egoku
dengan teduh tutur dan lakumu
dalam merdu lantunan ayat sucimu
ijinkan kali ini aku yang memohon padamu
jadilah ibu untuk anakku
hingga ringkih tubuhku
sampai Izrail menjemputku
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 02 Februari 2010
: terima kasih sudah mengenalkan dan mengajarkan puisi padaku. tahukah kau, pialamu 10 tahun yang lalu itu yang menginspirasiku.
tapi tetap, aku tak sehebat dirimu.
menyeruak dalam tabir sendu
sinar matamu penuh haru
menyentuh lembut dinding jiwaku
sepuluh tahun berlalu
banyak kembang tumbuh dan layu
tanpa kusadar ternyata kau masih di situ
tetap bertahan dan menunggu
kucoba ingat kala itu
ketika aku dan kau masih lugu
bergetar hati ini melihat matamu
bukan takut, tetapi malu
andai kau tahu
sekeranjang suratmu dulu
masih tersimpan rapi di rak buku
ia akan tetap di situ
kini, di awal tahun yang baru
hapus segala sakit dan galau itu
tersenyumlah dan bangkit untukku
hilangkan segala sangsi dan ragu
dari dulu, kau tahu siapa aku
tak banyak yang kumampu
jangankan kapal, perahu tiada aku
pasukanku hanya nyali dan semangat menggebu
kau yang anggun dalam kerudung biru
tegakkan kepalamu
tataplah lekat padaku
melangkah yakin disampingku
temani dan redam aku
atas segala mimpi dan egoku
dengan teduh tutur dan lakumu
dalam merdu lantunan ayat sucimu
ijinkan kali ini aku yang memohon padamu
jadilah ibu untuk anakku
hingga ringkih tubuhku
sampai Izrail menjemputku
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 02 Februari 2010
: terima kasih sudah mengenalkan dan mengajarkan puisi padaku. tahukah kau, pialamu 10 tahun yang lalu itu yang menginspirasiku.
tapi tetap, aku tak sehebat dirimu.
Senin, Februari 01, 2010
bangsa benalu
ini cerita tentang suatu negeri rumpun melayu
hidup resah di dalamnya para babu
berpesta pora penguasa di sisi yang satu
kuberi nama ia bangsa benalu
di sini manusia tak kenal kata malu
amanah artinya peluang untuk menipu
di tengah penderitaan dia malah tersipu
dengan pongah terbahak di dalam mobil baru
kerajaan ini sudah sangat mengganggu
pengaruhnya menjalar liar ke seluruh penjuru
tumbuh subur dia di taman bunga ibu
bergerombol dia punya style gaya saru
bangsa benalu punya kepala suku
di layar kaca dia punya muka seribu
slogannya cukup tersohor, "bersama kita bisa ragu!"
menghisap darah dan menindas dia punya laku
oh, benalu..
kau sudah terlalu
janganlah begitu
berhenti kotori rumahku
Bang Jenggot
Batavia Darusysyaitan, 01 Februari 2010
hidup resah di dalamnya para babu
berpesta pora penguasa di sisi yang satu
kuberi nama ia bangsa benalu
di sini manusia tak kenal kata malu
amanah artinya peluang untuk menipu
di tengah penderitaan dia malah tersipu
dengan pongah terbahak di dalam mobil baru
kerajaan ini sudah sangat mengganggu
pengaruhnya menjalar liar ke seluruh penjuru
tumbuh subur dia di taman bunga ibu
bergerombol dia punya style gaya saru
bangsa benalu punya kepala suku
di layar kaca dia punya muka seribu
slogannya cukup tersohor, "bersama kita bisa ragu!"
menghisap darah dan menindas dia punya laku
oh, benalu..
kau sudah terlalu
janganlah begitu
berhenti kotori rumahku
Bang Jenggot
Batavia Darusysyaitan, 01 Februari 2010
Jumat, Januari 29, 2010
P E R I N G A T A N
(Wiji Thukul)
jika rakyat pergi ketika penguasa pidato
kita harus hatihati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi dan berbisikbisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata:
Lawan!
Solo, 1986
jika rakyat pergi ketika penguasa pidato
kita harus hatihati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi dan berbisikbisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata:
Lawan!
Solo, 1986
Kamis, Januari 28, 2010
s e r a t u s
seratus kebohongan
seratus rekayasa
seratus tipu-tipu
seratus konspirasi
seratus topeng
seratus sandiwara
seratus kemuakan
seratus anarkisme
seratus bantahan
seratus ketakutan
seratus kegagalan
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 28 Januari 2010
seratus rekayasa
seratus tipu-tipu
seratus konspirasi
seratus topeng
seratus sandiwara
seratus kemuakan
seratus anarkisme
seratus bantahan
seratus ketakutan
seratus kegagalan
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 28 Januari 2010
Rabu, Januari 27, 2010
murkaku untukmu
berkali kubilang
tak perlu kau bohong
kalau hanya untuk dipuji
apalagi kalau hanya untuk diaku
berkali kubilang
tak perlu kau belajar sulap
magic itu palsu
dia tipu daya belaka
berkali kubilang
tak perlu kau terus tersenyum
menjadi baik itu tak penting
yang tepat itu menjadi benar
berkali kubilang
tak perlu kau takut jatuh
atas dan bawah itu niscaya
masa itu pasti datang
berkali kubilang
tak perlu kau menghiba
simpati itu naluri
dia datang dari hati nurani
oh.. bebalnya kau
kau buat aku muak dengan tingkahmu
sudah berkali kubilang
kau tak sadar juga
maafkan aku harus menyumpah
disambar petir rumahmu!
disergap buaya kepalamu!
disapu air bah segala hartamu!
wahai kau yang buta-tuli
kau sudah cukup membuat marah
izinkan aku murka hari ini
semoga Tuhan menyentil kupingmu!
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 27 Januari 2010
tak perlu kau bohong
kalau hanya untuk dipuji
apalagi kalau hanya untuk diaku
berkali kubilang
tak perlu kau belajar sulap
magic itu palsu
dia tipu daya belaka
berkali kubilang
tak perlu kau terus tersenyum
menjadi baik itu tak penting
yang tepat itu menjadi benar
berkali kubilang
tak perlu kau takut jatuh
atas dan bawah itu niscaya
masa itu pasti datang
berkali kubilang
tak perlu kau menghiba
simpati itu naluri
dia datang dari hati nurani
oh.. bebalnya kau
kau buat aku muak dengan tingkahmu
sudah berkali kubilang
kau tak sadar juga
maafkan aku harus menyumpah
disambar petir rumahmu!
disergap buaya kepalamu!
disapu air bah segala hartamu!
wahai kau yang buta-tuli
kau sudah cukup membuat marah
izinkan aku murka hari ini
semoga Tuhan menyentil kupingmu!
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 27 Januari 2010
Selasa, Januari 26, 2010
D E L I S H A
sebuah nama dalam novel sederhana
berkalang kisah penuh pilu
tentang dahsyatnya bencana alam
yang hentakkan dunia di penghujung tahun
kau, gadis kecil penghafal ayat shalat
sebelah kakimu guru ketabahan
kerlingan biru matamu penarik hati
tawa riangmu inspirasi hidup
namamu warnai kisah kami
dari balik dingin malam, kau hadir
sebagai cerita penghantar tidur
tentang mimpi-mimpi indah hidup kami
dimanakah engkau kini?
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 26 Januari 2010
berkalang kisah penuh pilu
tentang dahsyatnya bencana alam
yang hentakkan dunia di penghujung tahun
kau, gadis kecil penghafal ayat shalat
sebelah kakimu guru ketabahan
kerlingan biru matamu penarik hati
tawa riangmu inspirasi hidup
namamu warnai kisah kami
dari balik dingin malam, kau hadir
sebagai cerita penghantar tidur
tentang mimpi-mimpi indah hidup kami
dimanakah engkau kini?
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 26 Januari 2010
Senin, Januari 25, 2010
saat melangkah
waktu yang merangkak
mengurai kisah demi kisah
pada tertawa
atau air mata
sehangat jemari berpaut
biarkan saja hari menyepi
tafakur pada diam
seperti angin mengacuhkannya
membuang muka pada tanya
membunuh segala ragu dan takut
kini, saat menatap ke depan
dan melangkah penuh harap
tanpa berpaling lagi
ke belakang
sedikitpun
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 25 Januari 2010
:untuk Kawan Ike. tak satu ranah berjuang. selamat melangkah dan melanjutkan hidup, kawan!
mengurai kisah demi kisah
pada tertawa
atau air mata
sehangat jemari berpaut
biarkan saja hari menyepi
tafakur pada diam
seperti angin mengacuhkannya
membuang muka pada tanya
membunuh segala ragu dan takut
kini, saat menatap ke depan
dan melangkah penuh harap
tanpa berpaling lagi
ke belakang
sedikitpun
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 25 Januari 2010
:untuk Kawan Ike. tak satu ranah berjuang. selamat melangkah dan melanjutkan hidup, kawan!
Kamis, Januari 21, 2010
sudahlah, kawan
hai kawan
berhentilah kau membantah
tiada guna itu semua
kau seharusnya tau
kebenaran itu berdiri sendiri
dia tidak bergantung
tak butuh penjelasan
kau juga seharusnya tau
keadilan itu mutlak adanya
dia tidak memihak
tak butuh penegasan
kau semestinya harus tau
kejujuran itu hakiki
dia bersarang dalam hati nurani
tak butuh janji-janji
kau juga semestinya harus tau
kekuasaan itu titipan
dia sebentar saja singgah
tak butuh kau pagari
sudahlah, kawan
berhentilah kau membantah
tiada guna semua itu
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 21 Januari 2010
berhentilah kau membantah
tiada guna itu semua
kau seharusnya tau
kebenaran itu berdiri sendiri
dia tidak bergantung
tak butuh penjelasan
kau juga seharusnya tau
keadilan itu mutlak adanya
dia tidak memihak
tak butuh penegasan
kau semestinya harus tau
kejujuran itu hakiki
dia bersarang dalam hati nurani
tak butuh janji-janji
kau juga semestinya harus tau
kekuasaan itu titipan
dia sebentar saja singgah
tak butuh kau pagari
sudahlah, kawan
berhentilah kau membantah
tiada guna semua itu
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 21 Januari 2010
Selasa, Januari 19, 2010
Ha(i)ti kami untukmu
:untukmu kawan di Karibia
satu minggu lalu
petaka itu datang menyapa
mata seisi dunia tertuju padamu
indahnya kota pantaimu
seketika menjelma kontras
tertinggal hanya hamparan dan puing kehancuran
belum kering airmata
saat tanah menghentak dan memecah belah bumimu
terhempas engkau dan seisi kota
layar kaca menyampaikan kabar
dari balik serpihan gedung, sanak saudaramu tertimbun mati
dan kini engkau lapar, engkau menangis
hitam kulitmu, legam pula nasibmu
tak banyak yang dapat kuberi selain beribu doa untukmu
segeralah terbangun dari mimpi buruk ini
kawan, negeriku dan negerimu tak berbeda jauh
tangis dan darah sahabat karib kita
tapi aku selalu yakin Tuhan Maha Penolong dan tak pernah tidur
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 19 Januari 2010
satu minggu lalu
petaka itu datang menyapa
mata seisi dunia tertuju padamu
indahnya kota pantaimu
seketika menjelma kontras
tertinggal hanya hamparan dan puing kehancuran
belum kering airmata
saat tanah menghentak dan memecah belah bumimu
terhempas engkau dan seisi kota
layar kaca menyampaikan kabar
dari balik serpihan gedung, sanak saudaramu tertimbun mati
dan kini engkau lapar, engkau menangis
hitam kulitmu, legam pula nasibmu
tak banyak yang dapat kuberi selain beribu doa untukmu
segeralah terbangun dari mimpi buruk ini
kawan, negeriku dan negerimu tak berbeda jauh
tangis dan darah sahabat karib kita
tapi aku selalu yakin Tuhan Maha Penolong dan tak pernah tidur
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 19 Januari 2010
Senin, Januari 18, 2010
sahabatku dari lereng kali
(camar)
ada tanya terbersit
dari rumpunan galau hati
kemana jawab dicari?
bukankah pada diam
yang menggeliat?
merona mentari
merentas dini
harapan yang terbit
kembang hidup hari ini
selamat pagi dunia
perjalananmu hari ini
adalah tanya yang tersingkap
meski aku buta
bukankah lebih baik
membiarkan masa
menempuh perjalanannya sendiri?
terima kasih sahabat
sembari meniti waktu hari ini
dari tepian tarian bocah Kali Code
kuhantar rindu
temaram lalu kian memesona
apa kabar mu hari ini?
: apakabarmu, kawan?
rindu hati ini untuk sekedar merokok, berdiskusi dan shalat berjamaah di rumah itu, di lereng kali itu.
ada tanya terbersit
dari rumpunan galau hati
kemana jawab dicari?
bukankah pada diam
yang menggeliat?
merona mentari
merentas dini
harapan yang terbit
kembang hidup hari ini
selamat pagi dunia
perjalananmu hari ini
adalah tanya yang tersingkap
meski aku buta
bukankah lebih baik
membiarkan masa
menempuh perjalanannya sendiri?
terima kasih sahabat
sembari meniti waktu hari ini
dari tepian tarian bocah Kali Code
kuhantar rindu
temaram lalu kian memesona
apa kabar mu hari ini?
: apakabarmu, kawan?
rindu hati ini untuk sekedar merokok, berdiskusi dan shalat berjamaah di rumah itu, di lereng kali itu.
Jumat, Januari 15, 2010
i k h l a s
karena apa?
karena semua titipan
karena itu fana
apalah cita
apalah mimpi
apalah dunia
senang sekedar
sakit sekedar
sederhana biasa saja
dan lepaskanlah semua
ikhlas bebas rasa
puas penghabisan
satu kunci
satu rumusan ajaran
ia pembuka lapang hati
innalillahi wa inna ilaihi rajiun
terang lalu gelap
datang lalu pergi
hidup lalu mati
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 15 Januari 2010
karena semua titipan
karena itu fana
apalah cita
apalah mimpi
apalah dunia
senang sekedar
sakit sekedar
sederhana biasa saja
dan lepaskanlah semua
ikhlas bebas rasa
puas penghabisan
satu kunci
satu rumusan ajaran
ia pembuka lapang hati
innalillahi wa inna ilaihi rajiun
terang lalu gelap
datang lalu pergi
hidup lalu mati
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 15 Januari 2010
Kamis, Januari 14, 2010
G O D - o - A n g

hujan, petir, angin dingin
perang terus berkecamuk
musuh semakin lihai dan licik
barisan mesti dirapatkan lagi
awan hitam masih saja menggumpal
semangat harus dijaga
kepercayaan kunci utama
integritas senjata pamungkas
harta sekedar hiasan dunia
ingat, jangan ter-goda
harga diri diatas segala
jangan tergadai, jangan diumbar
ini hari momentum besar
saat kembali berlari kencang
berjuta harapan rakyat semesta
bersama tuhan kita menyerbu
tetaplah menyala lilin kecil
terangi INDONESIA kami!
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 14 Januari 2010
Senin, Januari 04, 2010
Pertemuan Kita

: Untuk Ibnu Haidar (Sang Macan Padang Pasir)
Pertemuan kita adalah takdir
yang tertulis rapi dalam sebuah naskah abadi
dalam hujaman terik mentari sungai lumpur
senyummu menyeruakkan kesejukan telaga dewi
aku terpukau dalam malu hati
tertawan marwah yang terlalu jumawa
pertemuan kita bukan sebuah rencana
ia hadir begitu saja, semudah angin malam menghambur ke samudera lepas
dalam terpaan badai negeri bencana
bergumul makian dan diskusi tak bertepi
kau ajari aku akan arti perjuangan
namun hidup tetaplah begitu mudah dan sederhana
pertemuan kita memahat bekas abadi di hati
ia telah terpatri tak mungkin terkikis luntur dimakan zaman
dari bincang pada sebuah perjalanan gelap menyisir kali
hingga sekedar makan yang biasa saja
kau ajari aku tetap berjalan di bumi
bahwa ada kehidupan nyata di luar angan
pertemuan kita adalah garis nasib
sebuah tragedi tak cukup mampu untuk menistakan
:ia tak kan pernah berakhir
selamat melanjutkan hidup, kawan!
Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 04 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)