Tampilkan postingan dengan label tulisan hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan hari ini. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 14, 2011

Surat Untuk Ibrahim

Melbourne, 14 Februari 2011

Ibrahim tersayang,

Aku tulis surat ini untukmu, walau mungkin saat ini kau belum bisa membacanya. Tapi tak apa, suruh Ibumu membacakannya untukmu. Tahukah kau, Ibumu itu penggemar setia Ayahmu ini, dia mengidolakan setiap tulisan Ayah.

Tak terasa, besok, 15 Februari 2011, tepat dua bulan usiamu sekaligus bertepatan dengan minggu ke-tujuh aku meninggalkanmu bersama Ibumu. Apakabarmu, nak? Seberapa keras tangismu? Konon kata Ibumu kau punya tangisan yang kuat. Hebat, nak. Menangislah yang lantang, sekeras-keras yang kau mampu, agar nanti kau terbiasa untuk berkata TIDAK dengan lantang ketika melihat kesewenang-wenangan di hadapanmu. Jadilah lelaki pemberani.

Teringat olehku di hari kelahiranmu, betapa haru hati kami semua menyaksikanmu lahir dengan sehat dan selamat, walau ibumu harus berjuang di meja operasi itu. Semua perawat di lorong rumah sakit senang mendengar suara tangismu yang keras itu, semakin syahdu saat ku adzankan engkau di telinga kananmu, kau tiba-tiba terdiam seolah-olah mendengarkan dan menghayati kumandang adzan itu. Luar biasa kau, nak!

Sudah bisa apa saja kau sekarang, nak? Konon kata ibumu, hobimu sekarang adalah menendang-nendang, memukul-mukul, serta memiring-miringkan badanmu. Bagus, nak. Latihan terus ya. Anak laki harus jago menendang dan memukul, biar nanti kau bisa memukul musuhmu yang nakal, tapi selalu menyayangi dan mengasihi teman-temanmu.

Ibrahim, kau harus tahu bahwa aku masih berada di tempat yang jauh dan meninggalkanmu untuk beberapa lama, menjalankan apa yang dapat aku perjuangkan melawan musuh-musuh kita. Bukan sesuatu hal luar biasa, namun aku sedang berbuat sesuatu, dan kupikir kau akan senantiasa bangga pada ayahmu ini, sebagaimana aku padamu.

Duniamu nanti akan pasti jauh berbeda dengan dunia kami sekarang, pastinya hidup akan menjadi makin sulit apalagi di negaramu yang dikuasai oleh para maling berpangkat itu. Sementara ini, kau harus mempersiapkan dirimu, jadilah revolusioner sejati. Minum air susu ibumu itu sebanyak-banyaknya, karena di situlah gizi terbaik daripada susu-susu sapi di supermarket-supermarket yang harganya selangit itu.

Di usiamu kini tugasmu hanyalah bermain sebanyak-banyaknya, sesuka hatimu. Bahagiakan masa kecilmu. Nanti ada saatmu untuk belajar, sebanyak-banyaknya, dan senantiasalah siap mendukung keadilan dan kebenaran. Juga, patuhlah pada ibumu dan janganlah kau berpikir hendak mengetahui segalanya terlalu dini. Saatnya kan datang padamu. Nanti.

Baiklah, Pangeranku. Sekali lagi kuharap di usiamu yang ke dua bulan ini, kau berbahagia walau tanpa aku di sampingmu. Bermainlah yang riang dan menangislah sekeras-kerasnya. Cium sayang ayah untukmu, dan peluk erat untuk Ibumu itu. Aku tahu dia begitu rindu padaku, tapi dia adalah wanita kuat dan pemberani. Aku mencintaimu sampai akhir hayatku.

Hormatku untukmu sang revolusioner muda,
Ayahmu.

Melbourne, 14 Februari 2011

Senin, Maret 15, 2010

Selamat Hari Lahir, Commandante!

kusapa angin pagi ini dengan mendengar suara rendahmu
nada khas penuh kearifan dan kematangan terdengar di seberang sana
lewat udara kau sambut aku dengan ucapan salam hangatmu
senangnya hati ini, segan yang teramat dan penuh hormat saat itu

hampir sepuluh tahun sudah kita hidup terpisah
egoku akan masa depan membuatku memilih jauh darimu
namun bagaimanapun, kau selalu dekat
karena kau selalu di hatiku, begitupun di hati Putri kesayanganmu itu

segala keteladanan yang minim nasihat itu
telah membentengi diri kami
dinding itu semakin meninggi dan kokoh
insyaAllah, sampai mati akan kami pertahankan

wahai Ayahanda kami tercinta
aku merindukan jabatan tangan dan peluk erat itu
dia pembakar semangat hidupku
dia sumber inspirasiku

ijinkan aku tetap menjadi murid setiamu
tetap ajari aku dan adikku
janganlah kau pernah letih dan menua
karena kau begitu kuat dan selalu muda yang kutahu

selamat hari lahir, Ayah
berkah Allah senantiasa selalu di sisa umurmu
doa kami takkan pernah putus untukmu
sampai akhir hayat kami

insyaAllah. Amin.


hormat dan peluk eratku untukmu, Commandante!
terima kasih sudah mengajarkanku menjadi seorang lelaki


salam ta'zim.

Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 15 Maret 2010

Senin, Maret 08, 2010

terima kasih untuk Sajak Putih itu

terima kasih, kawan muda
aku panggil kau kawan muda, karena kau tak sempat tua. kau tak pernah tua.

puisi-puisimu telah menemaniku mengisi hari
setiap kata-kata itu sarat makna
begitu dalam
begitu berarti

dengan sedikit larikmu
kau bawa aku ke dalam masamu
jauh menelisik hatimu
terbakar aku bersama gelora semangatmu

dalam sekelumit kisahmu
kau lambungkan aku pada indahnya kasih
sederhananya cinta
dan arti kesetiaan

hai kau yang tak pernah tua
ijinkan aku menghadirkanmu kembali
di hari perjanjianku
pada pernikahan kami

terima kasih, Bung!

ini dia puisimu untuk Mirat, tunanganmu itu. kuhadiahi dia untuk calon istriku juga.

Sabtu, Maret 06, 2010

mencari A S A L

Matahari itu akan tetap ada di sana
Tanpa kau tanpa aku dia memang akan semakin menghunjamkan panasnya lebih terik dari masa ke masa.
Bintang bersinar itu bahkan hidup dan berarti lebih lama dibanding usahamu meski ia telah padam di masa nenek moyangmu masih belajar berlayar ke tanah yang kau yakini sebagai rumahmu.

(RM)

terima kasih untuk potongan puisi di atas.

kenyataan itu memang sempat mengguncang jiwaku. sebuah kebenaran yang tak pernah kuduga sebelumnya datang dari kerabat dekat yang jauh. kebanggaan atas ragam etnis dan budaya yang seumur hidup kupegang teguh luntur seketika. aku tak menyalahkan Ibu, tidak juga kerabat lainnya, aku yakin semua dilakukan untuk kebaikanku.

kebenaran itu datang menjelang hari perjanjianku, hari dimana setelahnya aku akan melanjutkan garis darah. aku bukanlah seperti yang kuduga selama ini. dari pesisir timur jauh itu, nenek moyangku telah berlayar dan berlabuh di tanah yang selama ini kuyakini sebagai rumahku.

aku terlanjur mencintai tanah itu lengkap dengan segala budaya yang telah membentuk pribadiku. sejarah perjalanan hidupku telah tenggelam dalam euforia kesukuan itu.

apapun kebenaran itu, tidak akan mengubah diriku. aku tetaplah orang Minang seperti yang kalian ketahui.

(mencintai etnis bukan berarti primordial, hanya sekedar bentuk pengakuan atas sebuah identitas diri)

Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 06 Maret 2010

belajar L U P A

Suatu hari Ayahku pernah mengingatkan:
“biarlah rahasia itu tetap menjadi misteri, karena hatimu tak kan sanggup menerima semua kebenaran yang ada”.


Dalam perenungan malam ini aku semakin tersadar, semua benar adanya. Semakin banyak yang kutahu, semakin resah hatiku. Andai aku bisa belajar LUPA.

Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, dini hari, 06 Maret 2010

Jumat, Februari 19, 2010

Untuk Haidar

Aris Saputra ben Arman / Pak De Oshama / Haidar:

Malam ini aku teringat akan banyak hal tentang kau, ketika pertama kali kita bertemu sembilan tahun yang lalu di sebuah rumah sederhana di lereng kali itu - kali code. Ketika banyak hal telah kita lalui bersama di saat gelora masa muda membakar jiwa kita. Saat mimpi-mimpi tentang masa depan melecut kita melakukan banyak hal yang tak dilakukan anak muda lainnya.

Sesekali ketegangan-ketegangan itu menghampiri kita dan menguji nyali kita, dan kemungkinan nyata dari fakta itu berusaha memukul mundur segala cita kita. Banyak pergolakan batin, banyak rasa sedih saat sebuah tembok besar menghantam muka kita, namun akhirnya kita tahu pasti bahwa segala doa itu jauh lebih dahsyat menyerang balik mereka semua. Kita tetap bertahan, masih merokok dan menyeduh secangkir kopi hitam sembari berdiskusi sampai pagi. (namun sekarang, lambungku sudah tak sanggup lagi berkompromi dengan kafein).

Aku tahu, banyak sudah kawan dan pendahulu yang berjatuhan sepanjang jalan yang kita retas ini. Ketika tuntutan hidup dan pesona harta membelokkan kemudi keimanan. Kita memang harus tetap waspada, namun bagiku itu tetap bukan suatu persoalan besar yang harus ditakutkan selama kau dan aku masih saling menyapa, itu akan saling mengingatkan kita. Aku selalu yakin itu.

Saat ini segala sesuatunya tidak lagi terlalu dramatis, karena kita sedikit lebih matang. Tidak ada lagi prestasi-prestasi yang gagah berani, semua hanya sekedar rute perjalanan hidup yang mesti dilalui dengan sederhana dan biasa saja. Namun bagiku, dalam kesederhanaan itu kita telah menggapai kemegahan jiwa yang hanya bisa dinikmati sedikit manusia. Pikiran kita yang menciptakannya, dia telah mengatur ritme hati kita.

Malam ini aku teringat akan banyak hal tentang kau dan kehebatan diri yang kau ajarkan padaku. Sebuah kabar begitu membahagiakan datang di minggu ini, di saat diriku mencoba mengurai kusutnya masalah klasik republik ini di sebuah sudut negeri. Suara khasmu menyiratkan sebuah kemenangan telah kau raih hari itu. Kemenangan besar yang hampir dua belas tahun kau tunggu di kota itu. Akhirnya kau seberangi jembatan itu. Aku tahu, sebenarnya itu hal mudah bagimu, namun seperti biasa, kau selalu memilih jalan yang sulit untuk menempa dirimu. Aku tetap bangga padamu.

Kabar baik ini melengkapi kebahagian hatiku di awal tahun ini. Terima kasih, Tuhan. Setelah hujaman badai besar menerpa diriku berkali-kali di tahun lalu, di dua bulan tahun yang baru ini kau kirimkan hujan berkah untukku. Alhamdulillah, aku bersyukur.

Ingin rasanya aku datang ke sana, menyapamu dengan sapaan khasku, menyuduhkan secangkir kopi hitam dan menyulutkan sebatang tembakau untukmu. Namun badan terikat pada kewajiban yang telah kutetapkan sebagai ranah pengabdianku. Sudilah kiranya kau maafkan aku atas kondisi ini.

Seperti yang telah ku kabarkan padamu, bulan depan adalah hari paling bersejarah dalam hidupku. Kuharap kau ada di situ, saksikan kami memadu janji sehidup semati. Karena tak dapat kupungkiri, segala pesan dan nasihatmu jua lah yang memudahkanku untuk mengambil pilihan terbaik ini.

Malam ini, diantara godaan genit bantal seksi yang tak letih merayu penat badan ini, telah kutuliskan semua isi hati akan ingatanku padamu dan kuputuskan untuk mengabarkannya kepada dunia.

Jabat dan peluk eratku untukmu, kamerad!


Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 19 Februari 2010

Senin, Januari 11, 2010

Publisitas dan Sebuah Pelajaran Berharga dari Tan



Ada yang berpikir menjadi terkenal dan dikenal itu adalah tujuan hidup banyak orang. Mereka berpikir adalah suatu kebanggaan ketika hasil karya maupun perbuatannya diakui dan diketahui oleh semua orang. Bahkan mungkin hanya lewat sekedar sensasi atau berita miring, manusia rela membuka dirinya untuk umum. Tidak ada yang salah dalam hal itu. Dan akupun maklum dan menerima pendapat seperti itu.

Adalah sebuah diskusi tak penting di sela-sela waktu menunggu adzan magrib dengan seorang kawan beberapa hari yang menginspirasiku untuk menuliskan hal ini. Sang kawan tiba-tiba bertanya tentang apa pentingnya publisitas? dan mengapa semua orang ingin terkenal?

Agak unik memang pertanyaan ini, atau mungkin terkesan sangat retoris. Aku yakin dia sudah punya jawaban sendiri tentang hal ini. Namun sebagai lawan bicara yang baik dan menghargai, kucoba meladeni diskusi ini. Bagiku, publisitas itu bisa menjadi penting, bisa menjadi tidak penting. Tergantung pada konteksnya. Norma-norma dan ajaran agama sudah banyak mengajarkan tentang hal ini.

Nampaknya sang kawan mulai terangsang mendengar sedikit jawabanku, sang kawan terlihat sedikit penasaran, lalu bertanya lebih jauh.
"Coba jelaskan apa maksudnya tergantung konteks?"

Dengan santai, akupun mencoba menjelaskan lebih lanjut.
"Iya. menurutku, segala publisitas itu sah-sah saja selama segala informasi itu benar dan dengan tujuan baik untuk kemaslahatan. Agama kita mengajarkan bahwa sampaikanlah kebenarannya itu walau cuma satu ayat. Namun tetap diperhatikan, informasi dan segala publisitas itu bukanlah sebuah fitnah atau kebohongan yang akan menyesatkan banyak pihak". (gaya bicaraku mulai tidak benar, sok intelek)

"Hmm... iya, bro. Aku sependapat. Memang semestinya begitu. Namun apa yang kita lihat sekarang? Segala informasi berseliweran di media, semua saling tumpah tindih sampai-sampai si pembuat beritapun bingung sudah memberitakan apa saja". Dia menimpali dengan bersemangat.

(Dalam hatiku, aku mulai menangkap arah pembicaraannya. Dia mencoba untuk mengkritisi kebebasan pers akibat banyak rumor di tengah-tengah masyarakat akibat banyaknya pemberitaan yang ada).

Aku mencoba menimpali.
"Yah, aku faham maksudmu, kawan. Cuma kita tidak bisa menyalahkan si pembuat berita begitu saja, apapun itu walau banyak kepentingan dalam sebuah industri media, tugas mereka adalah menyampaikan berita. Memang sedikit kontradiktif dengan ucapanku sebelumnya bahwa semua orang harus belajar menyampaikan segala informasi dengan benar, namun untuk soal ini, kita tidak punya kekuatan untuk melawan derasnya informasi yang penuh kepentingan itu. Semua tergantung kita, tergantung pada kemampuan kita menganalisa dan mengambil benang merah dari segala informasi tersebut. Di sini dibutuhkan ketajaman daya pikir dan logika. Hampir semua kebenaran yang ada di atas bumi ini, bisa dirunutkan alur logisnya, kecuali hal-hal ghaib milik Yang Maha Kuasa yang mau ga mau harus kita percayai". (aku merasa semakin tua dengan jawabanku tadi).

Sang kawan manggut-manggut seperti burung balam milik Alm. Kakekku dulu. Mulutnya sedikit manyun ke depan dan keningnya sedikit berkerut. Lalu dia melanjutkan pertanyaannya.
"Lalu apa pendapatmu mengenai fenomena banyaknya orang-orang yang ingin menjadi terkenal akhir-akhir ini? Sepertinya semua orang ingin jadi selebritis. Mulai dari anggota DPR, Penegak Hukum, sampai anak-anak muda di kampungpun ingin jadi artis dan muncul di media."

"Wah, kalau soal ini aku tak bisa menjawab, kawan. Mungkin lebih tepatnya, ente sendiri yang bertanya yang bersangkutan. Saya tidak punya kewenangan untuk berspekulasi dan menyebar fitnah baru dalam hal ini. haha...". Jawabku sambil sedikit tertawa manis padanya.

Diapun ikut tertawa terbahak.
"Iya... Iya... Benar juga kau, bro. Lalu, untukmu sendiri seberapa penting untuk menjadi terkenal itu?". sambungnya.

"Tidak penting bagiku". jawabku enteng.

"Maksudnya?". dia sedikit penasaran.

"Iya. Tidak penting menjadi dikenal atau tidak. Tidak penting orang tahu siapa dirimu dan apa yang kau perbuat. Yang terpenting, apa yang telah kau lakukan adalah langkah nyata dan bermanfaat langsung bagi banyak orang. Sekecil apapun peran itu. Dan aku memilih untuk tidak dikenal". ujarku santai.

"Hahaha.. Ok, bro. I see...". ucapnya.

Seketika rekaman adzan magribpun berkumandang, dan kami berduapun bersegera mengambil wudhu untuk kemudian menunaikan shalat magrib berjamaah.

*****

Perbincangan santai sore itu, terbawa sampai malam dalam pikiranku. Seketika teringat akan seorang sosok yang sangat kukagumi selama ini. Dia adalah Tan Malaka. Sosok kecil yang revolusioner itu. Aku mengenalnya lewat beberapa tulisannya, antara lain: "Naar de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia), "Madilog", "Massa Aksi", dan Trilogi "Dari Penjara ke Penjara".

Tan Malaka adalah seorang putra terbaik bangsa ini yang sangat sedikit di kenal, karena buku-buku sejarah di jaman Orde Lama dan Orde Baru seolah ingin menghapus nama dan segala perannya dalam perjalanan bangsa ini. Tan Malaka adalah sosok manusia yang ikhlas dan penuh dedikasi atas segala perjuangannya.

Tan Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok.

Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein.

Terkait nama Ilyas Hussein tersebut, dalam sebuah film dokumenter "Gus Dur", Gus Dur bercerita bahwa pernah di masa kecilnya, saat itu ayah Gus Dur (KH. Wahid Hasyim) menjadi Menteri Agama di zaman Presiden Soekarno, ada seorang tua bertubuh kecil dan mengaku bernama Kyai Ilyas Hussein dari Banten sering bertamu ke rumah mereka di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dan setiap tamu itu datang, Ibu Gus Dur selalu sibuk mempersiapkan makanan dan begitupun Sang Ayah akan menyambutnya dengan riang gembira. Gus Dur kecil sering sekali memperhatikan pemandangan seperti itu setiap orang itu datang. Hingga pada suatu hari, ketika Kyai Ilyas Hussein itu tidak pernah datang lagi, Gus Dur-pun bertanya tentang jati diri orang tersebut. Dan dijawablah oleh sang ayah, bahwa orang tersebut adalah Tan Malaka. Orang besar yang tak pernah dikenal.

Sungguh menarik dan menginspirasi betapa tulusnya perjuangan seorang Tan. Ia tak pernah berharap dikenal, apalagi dipuji. Dialah pahlawan yang sebenarnya. Pikirannya jauh melampaui zamannya, ini terbukti dari buku "Naar de Republiek Indonesia" yang ditulisnya pada tahun 1925, jauh hari sebelum Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir dan para Bapak Bangsa lainnya memikirkan nama negara kita adalah Republik Indonesia.

Satu kesimpulan kecil, belajar banyaklah dari Tan! Berbuatlah, tanpa berharap akan terkenal. Karena pejuang sejati pasti akan selalu dikenang sampai akhir zaman.

Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 11 Januari 2010

Jumat, Januari 01, 2010

Datanglah Saat Itu..



Hari ini, Bumi sungguh sama saja seperti kemarin, kemarin lusa, minggu lalu, bahkan tahun lalu. Bahkan setelah badai mengamuk senja, petir-petir menelanjangi angkasa, selepas vulkano-vulkano itu bersenggama, dia masih saja sama. Esok, katanya pula, mentari ku akan masih tetap disana, terbangun di ujung timur ranjangnya, merah karena terbakar hangatnya, tapi masih merajuk malu pada gemintang dan tuan rembulan ku. Esok, lanjutnya pula, bahkan tanpa kau tau, kami damaikan isi perut kami sendiri, dan kau tak perlu tau.

Saat ku datang menemuinya malam itu, dia sedang tidak dalam gaum malam terbaiknya, dia malu, ucapnya. Pelan ku geser daun pintu, hingga hanya raut wajah yang telah terhias yang dapat ku tatap. Aku menawan bukan, jujur sorot mata mu menyampaikannya, bahwa kau tertawan oleh ku, lanjutnya. Tapi tidak, tidak malam ini, sahutnya lagi dengan seukir senyum yang tak akan mampu ku kalahkan. Dan aku kalah.

Datang lah besok pagi, serunya, selepas malam ini, malam dimana aku harus menyatukan kembali satu per satu mimpi ku, malam dimana akan ku bangun lagi jaring-jaring untaian berlian ku, malam dimana akan ku pandang lagi kedamaian kelam, malam yang akan kembali menyusun isi hati ku.

Datang lah besok pagi, setelah bulir embun membasuh debu jalanan, setelah bulir embun membasuh lagi rupa kembang yang layu karena gersang, setelah bulir embun itu melepaskan warna pelangi diantara terik mentari, setelah bulir-bulir embun itu kembali jatuh di atas bulu halus rumput-rumput ilalang.

Datang lah saat itu, saat embun itu masih mampu mendamaikan tanah-tanah meranggas, saat embun itu masih bertahan di antara daun-daun yang bertiup, saat embun itu masih akan menyejukan tangan mu yang hangat oleh lelap. Karena aku diantara mereka, di antara kesejukkan pagi yang ringkih, namun kau damba. Jangan terlambat, bangun lah lebih awal untukku, dan temui aku. Temui aku disana, diantara tetesan embun pagi.

(APP)

Rabu, Desember 30, 2009

Memori Kavling 76



"Aku masih merindukan sepatu kulit berujung besi itu..."

malam gerimis itu aku terdiam di sebuah gedung parkir di kawasan pusat Batavia. air wudhu bekas isya masih tersisa di kepala. dari lantai 4 parkiran motor itu, mataku nanar menatap ke arah jalanan S. Parman yang mulai sepi oleh lalu lalang penambang rezeki Ibukota. dua batang Class Mild tersisa di kantong. (sebenarnya aku benci tembakau ini, selalu merayu dan menggodaku untuk terus menghisap sisa pembakarannya ke ruang paru yang tak pernah kuketahui kondisinya).

hari ini begitu melelahkan. lebih 1 minggu selalu begini. namun semakin berat karena hantaman masalah yang memukul telak di wajah. hampir 30 menit aku termangu, tanpa sadar satu batang Class Mild pun mendarat mulus di bibir, dan dentingan "tokai" menyulutkan sebentuk cahaya tipis diujung benda sepanjang 9 centimeter itu. dalam kutarik zat karbon itu hingga terasa penuh ruang paru, lalu perlahan kuhembuskan asap putih itu. nikmat terasa sekejap.

aku letih, otakku penuh. sekejap salam isya tadi menenangkan hati, namun seketika meninggalkan sajadah, gundah kembali datang.

sekelebat terlintas memori di masa lalu, tentang indahnya masa kecil, riangnya masa remaja yang penuh pergolakan, tentang pupusnya sebuah cita-cita, dan datang-perginya orang-orang tersayang dalam hidup.

teringat akan rumah kontrakan kecil dan vespa butut bapak yang menemani masa kecilku di kota kecil pinggir barat Sumatera, omelan ibu yang pernah letih menyayangiku, onggokan buku di lemari kamar yang tak pernah rapi, para sahabat di tempat yang jauh, meja gambar yang tak tahu lagi dimana rimbanya, cerita cinta yang pernah selesai, serta helm proyek dan sepatu berujung besi yang telah kukembalikan pada Tuan China Pribumi Sang Manager di rimba Melayu.

semua telah jauh tertinggal di belakang. aku rindu semuanya. Batavia cukup melemahkan hati dan iman. aku terpuruk di dasar lumpurnya, diantara segala kebohongan, kekosongan jiwa, dan hancurnya hati.

tiba-tiba aku tersentak, lamunanku buyar oleh sapaan seorang petugas parkir yang hendak pulang karena waktu shift-nya hampir habis. kuanggukkan kepala sembari menyeka muka, aku melangkah ke arah motor lamaku yang tinggal sendiri di ruang parkir itu. kunyalakan motor, dan kutancap gas sekencang mungkin ke arah kamar kos yang sudah tak sabar menunggu kedatangan Tuannya. kutinggalkan semua lamunan di ruang parkir itu, kusongsong kembali jalanan Batavia.

here I stand all alone
have my mind turned to stone
have my heart filled up with ice
to avoid it's breakin' twice

thank to you, my dear old friend
but you can't help, this is the end
of a tale that wasn't right
i won't have no sleep tonight

in my heart, in my soul
i really hate to pay this toll
should be strong, young and bold
but the only thing I feel is pain


bang jenggot,
batavia darusysyaitan, 30 Desember 2009

Senin, Desember 28, 2009

Memulai dari Awal (dari akhir ke awal)



Ibu: "Sudahlah, Nak... Cukup!"

adakah yang lebih menakutkan dari murka seorang Ibu?


kuputuskan untuk menghentikan semua langkah ini. kulepas semuanya. mungkin aku salah, tapi aku yakin aku tak salah.

adalah malam itu, begitu mencekam. menguras energi dan kesabaran. aku letih, tanpa daya. otakku dibenturkan pada dua tembok, tembok terus menekan dan menghimpit perasaan.

bingung, sedih, dan amarah membaur.

sempat kuucap satu putusan, namun keadaan membuatku merubahnya kembali. Bismillah, kuambil pilihan.

adalah sebuah Rizki yang patut disyukuri. InsyaAllah, Rizki yang diridhai Allah. Amin. kuberjanji akan menjaga dan bertanggung-jawab atasnya. bangkit dan hiduplah untukku.

izinkan aku memulainya lagi. percayakan padaku.

Oh.. If I'd only seen that the joke was on me
Oh no.. that the joke was on me

Rabu, November 04, 2009

Belajar Merantau


:untuk adikku tersayang yang sedang belajar MERANTAU.

minggu lalu, saya membeli sebuah novel berjudul Negara 5 Menara "Man Jadda Wajada" (siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil), belum selesai saya membacanya memang, namun sebuah syair Imam Syafii di halaman depan novel tersebut cukup berkesan bagi saya.

berikut adalah kutipan syair tersebut:

"orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan"


sebagai lelaki minang, saya sendiri merasakan dan mengalami hal tersebut. hampir 9 tahun sudah saya meninggalkan ranah minang untuk sekedar mencari ilmu dan mencari nafkah. adalah sebuah tuntutan (kalau tidak mau dibilang kutukan) bagi para lelaki minang untuk pergi merantau. karena secara kultural, lelaki minang diposisikan sangat lemah. ditambah lagi, karena memang alam minangkabau tidak mengandung banyak material yang bisa digarap dan digali sebagai sumber kehidupan yang lebih baik.
keunikan ini berakar dari kultur matrialineal yang hingga kini masih dianut oleh masyarakat Minangkabau. Salah satu keunikan itu adalah kaum lelakinya tidak memiliki hak warisan atas pusaka turunan. yang berhak menerima warisan pusaka dari orangtuanya adalah kaum perempuan. Selain dari itu, lelaki minang juga tidak menurunkan suku (marga)-nya kepada anaknya sendiri, melainkan kepada anak saudara perempuannya atau kemenakan.

jika pun seorang lelaki berdiam di rumah orangtuanya setelah berkeluarga dan menggarap sawah ladang orang tuanya sendiri, itu bukan berarti ia dapat menurunkan warisan itu kepada anak-anaknya kalau ia meninggal nanti, sekalipun lelaki itu tidak memiliki saudara perempuan seayah-seibu, toh masih ada saudara perempuan sepupu untuk menerima warisan itu. malah, tinggal dan menggarap sawah ladang di rumah dan tanah orangtua sendiri, di tanah Minang adalah aib.

sebenarnya, bagi kaum lelaki yang ditakdirkan lahir sebagai lelaki dari etnis Minangkabau, bukan tidak berdampak atas perlakuan adat yang tidak kenal kompromi itu. jika diteliti secara cermat, nuansa melangkolis begitu kental ditemukan di dalam sastra tradisi masyarakatnya seperti di dalam pantun, kaba dan nyanyian, baik yang masih lisan maupun yang sudah tertulis di dalam aksara Jawi atau pun Melayu.

nuansa melankolis itu lebih merupakan dendam yang laten ketimbang protes. Dampak dari dendam laten itu berujud menjadi perilaku merantau yang pada dasarnya adalah pencarian harga diri. jika tidak ada yang memiliki di kampung halaman sendiri, di luar tanah Minang pasti ada, sekurang-kurangnya pergi belajar dalam arti yang luas untuk mendapatkan martabat sebagai lelaki. agaknya, itu merupakan salah satu faktor mengapa orang Minang sangat concern dengan dunia pendidikan.

tentang kegelisahan anak lelaki yang mulai dewasa di Minangkabau, terlukis dalam pantun "merantau" yang sangat lazim dipakai oleh tukang kaba (tukang cerita lisan) melalui rebab, saluang, atau teater randai adalah seperti berikut:

"karatau madang di hulu
berbuah berbunga belum
merantau bujang dahulu
di rumah berguna belum"


merantau sejak usia muda pada dasarnya adalah belajar menjadi orang. belajar dari manusia-manusia yang ditemui dalam perantauan itu. belajar memahami manusia dan kultur baru di tempat hidup dan bertinggal. di sinilah, pesantren hidup yang menempa kita menjadi manusia dewasa seutuhnya.

adikku sayang, kau memang bukan lelaki. tetapi pilihan hidupmu, menuntutmu untuk merantau. maka belajarlah merantau, belajarlah dari kearifan alam, dan berubahlah jika itu memang diperlukan. layaknya pepatah: "alam takambang jadi guru" dan "sakali aie gadang, sakali tapian barubah". hidup harus tetap dilanjutkan, sepahit apapun jalannya. tetaplah berpegang teguh pada tali Allah, karena memang hanya Allah-lah sebaik-baik penolong.

Selamat Merantau dan Melanjutkan Hidup, Adikku. InsyaAllah, aku akan selalu ada untukmu.

Selasa, Oktober 20, 2009

Pesan Singkat untuk Presiden RI Terpilih



"selamat bertugas kami ucapkan kepada Bapak Presiden RI dan Bapak Wakil Presiden RI terpilih. semoga mampu menjadi Pemimpin yang benar, bukan sekedar menjadi pemimpin yang baik. karena menjadi benar jauh lebih sulit daripada menjadi baik. jangan hidup dari Negara, tapi hiduplah untuk Negara".

Bang Jenggot,
Batavia Darusysyaitan, 20 Oktober 2009

Jumat, September 25, 2009

Lamunan Subuh di Kampung




"setanku yang cantik, kamu sedikit menggodaku.."

Dingin angin subuh menyelinap ke telingaku. Membuyarkan sketsa buram mimpi semalam. Dari dalam sebuah surau kecil, suara rendah adzan subuh memaksaku bangkit dan membasahi tubuh dengan tetesan air wudhu. Berat terasa menunaikan kewajiban pagi ini.

Seusai salam, pikiran melayang. Terbayang percakapan singkat semalam dengan seorang kawan. Dia adalah kawan lama yang kutemui dalam imaji.

"Apa kebebasan? Apa keadilan? Apa kemanusiaan? Bagaimana perjuangan cita-cita dan perut?"

Aku malas menjawab, karena memang topik itu sudah tak menarik lagi bagiku. Sudah kulupakan beberapa tahun yang lalu.

Lalu dia berujar lagi: "Apa negara? Apa pemimpin? Apa uang?"

Aku semakin muak dan ingin cepat-cepat mengakhiri perbincangan tak nyaman ini. Kucoba berdiri dan melangkah pergi, namun tangan kekarnya menarik bahuku sehingga aku kembali terhenyak duduk di bangku teras itu. Hampir saja tumpah emosiku seketika itu juga. Namun dengan tenang dia berujar: "Tenang, dengarkan aku sejenak..". Kutarik nafas panjang dan kucoba untuk berkompromi mendengar penjelasannya.

"Kebebasan, keadilan, kemanusiaan, perjuangan cita, negara, pemimpin, dan uang telah membuat manusia merasa benar atas apa yang diyakininya. Semua ingin menjadi tokoh sentral dalam kehidupan. Semua ingin menjadi pahlawan". Ujarnya penuh semangat.

Kemudian dia melanjutkan, "Sejak dunia ada, sudah jutaan bahkan berratus juta manusia mati sia-sia demi ego dan nafsu diri. Mereka berpikir mampu menguras lautan, tapi apa daya samudera begitu luas, dan akhirnya dia pun mati tenggelam".

Aku masih terdiam dan menghela nafas panjang.

"Kawan, saatnya kau berkompromi dengan dirimu. Hargai dia, senangkan dia, dan hiburlah dia. Injakkan kaki ke tanah, dan rasakan bahwa jalan di depan penuh ranjau dan bahaya. Jangan gegabah. Ada 2 pilihan: persenjatai diri dan terus melangkah hati-hati atau cari jalan lain. Tak ada salahnya mengalah pada diri sendiri bukan?"

Aku terkesima, aku takjub dengan ocehan singkatnya. Kucoba untuk mulai tersenyum dan mengapresianya dengan anggukan pelan.

Dia pun terbahak dan menyeringai padaku.

"Jangan terlalu sering bermain ke langit, karena bumi masih terlalu luas. Nikmati malam ini dan habiskan rokok itu. Semoga kau tenang.. Ha ha ha..", ujarnya sambil meludah dan berlalu dari pandanganku.

Aku tersentak ketika bunyi piring berdenting dari arah dapur. Kuselidik, ternyata ibu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Kurapikan sajadah, dan melangkah ke teras luar sembari berujar pelan, "Memang, kadang otak dan hati menyiksa manusia dengan semena-mena".

Kutarik nafas panjang dan kuludahkan segala isi mulutku. Pfiuuuuh... "Selamat pagi, dunia!"

Bang Jenggot,
Parak Kerakah Darussakinah, 25 September 2009.

Senin, Desember 01, 2008

Diversity, Globalisasi x Diskriminasi



Sebuah judul yang aneh dan terlihat tidak penting memang. Namun beberapa kejadianlah yang memaksa saya untuk menuangkan kegundahan ini ke dalam sebuah tulisan. Semoga tulisan ini hanyalah karena kesalahan tafsir dan kekurang-arifan saya saja dalam menilai.

Berawal dari sebuah kejadian lebih dari 2 tahun yang lalu, ketika saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional di kawasan timur Pulau Sumatera. Sebuah perusahaan yang sebagian besar karyawannya adalah expatriat yang berasal lebih dari 20 suku bangsa di dalamnya. Dengan total karyawan yang hanya 450 orang, komposisi pribumi dan non pribumi sangat berimbang. Diversity, begitulah salah satu slogan dari budaya perusahaan tersebut. Menurut kamus Bahasa, diversity dalam Bahasa Indonesia berarti keberagaman. Keberagaman yang diharapkan mampu memperkaya khasanah demi menghindari diskriminasi. Sebuah tujuan yang mulia adanya.

Namun yang menjadi persoalan adalah pada tataran pelaksanaannya. Merupakan masalah klasik di negeri ini, ketika segala simbol dan slogan ditulis dengan begitu indah, namun itu hanya sekedar tulisan hampa makna. Keberagaman yang diharapkan menjadi budaya positif perusahaan justru menjadi garis penegas diskriminasi. Dimulai dari fasilitas yang diberikan, allowances, sampai posisi jabatan strategis perusahaan. Pribumi hanya bisa pasrah menanggung murka, sembari tersadar bahwa hidup memang tak adil.

Kejadian lain yang saya alami tepatnya di sebuah hotel berbintang di bilangan Jakarta Pusat. Saat itu saya dan teman-teman sedang menunggu jemputan di lobby hotel. Tanpa sengaja mata saya tertuju pada metal detector yang terdapat didepan pintu masuk hotel tersebut dan dijaga dua orang security. Memang sejak aksi-aksi teror bom yang melanda negeri ini dalam kurun waktu 8 tahun terakhir adalah sebuah standar keamanan yang wajib bagi setiap gedung yang ruang publik untuk memeriksa barang bawaan dari setiap pengunjung yang datang. Tidak sengaja, sembari menunggu mobil jemputan, mata saya tertuju untuk mengamati orang-orang yang berlaluan pada metal detector tersebut. Namun ada kejanggalan yang saya lihat di sana, ketika para tamu asing yang masuk ke dalam lobby hotel tersebut, mereka dengan enteng melangkah tanpa mengalami pemeriksaan, sementara ketika yang masuk adalah pribumi, mereka wajib diperiksa sesuai prosedur.

Pada awalnya saya berpikir mungkin tamu asing yang masuk tadi hanya luput saja dari pemeriksaan, namun setelah kurang lebih 5 menit saya berdiri dan mengamati di situ, ternyata memang tidak ada pemeriksaan terhadap mereka. Sebegitu parahkah pribumi Indonesia sehingga harus mendapatkan “perlakuan khusus” dan dicurigai seperti itu? Bukankah SOP yang dibuat pengelola gedung berlaku sama bagi setiap pengunjung gedung? Entahlah, saya tidak berani menduga.

Di zaman globalisasi ini, di saat dunia sudah tak berbatas suku dan warna kulit, di negeri ini masih saja ada perbedaan perlakuan antara asing dan pribumi.

Iseng saya bertanya kepada seorang kawan, mengapa fenomena seperti ini masih terjadi di negeri ini? Mengapa pribumi selalu mengkondisikan diri mereka lebih rendah dari bangsa lain? Sang kawan pun menjawab, semua disebabkan karena mentalitas dari mayoritas masyarakat negeri ini yang sudah hancur akibat terlalu lama menjadi bangsa terjajah sehingga tidak mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa lain.

Lama saya menghayati pernyataan singkat sang kawan tersebut, namun akhirnya saya paksakan untuk meng-amin-i pernyataan tersebut. Apakah hidup memang tak adil bagi para pribumi? Entahlah, saya juga tak berani menduga.

Jumat, November 21, 2008

Aku, Tan, Che & Obama



Hujan malam itu (4 November 2008) membekukan diriku. angin dingin merasuk, menusuk ke dalam tulang. aku terdiam di sudut, menunggu pagi sambil memainkan remote televisi. dari beberapa channel yang kupilih, diantaranya: Metro TV, CNN, Al Jazeera, CNBC, dan beberapa stasiun TV swasta lokal, semua membahas tentang euforia demokrasi di negeri
Paman Sam itu.

Adalah dua sosok yang menjadi sorotan utama malam itu, John Sidney McCain III dari Partai Republik dan Barack Hussein Obama II dari Partai Demokrat. Cuma satu hal yang menarik, dari sekian banyak stasiun televisi tersebut, semua terkesan menjagokan Obama, ketimbang lawannya McCain.

Lumrah memang ketika Obama menjadi buah bibir, dia adalah calon presiden berkulit hitam pertama di Amerika Serikat. Obama dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1961 di Honolulu dari pernikahan dua warna kulit antara ayahnya, Barack Husein Obama Senior yang kulit hitam asal KENYA, Afrika dengan ibunya, ANN DUNHAM yang kulit putih asal Kansas City. Obama Senior orang Afrika pertama yang mendapatkan beasiswa --- juga bertemu ANN DUNHAM --- di East West Center / University of Hawaii, Honolulu. Setelah bercerai Ann Dunham menikah dengan pria Indonesia, LOLO SOETORO. Obama juga sempat tinggal di Jakarta selama 3,5 tahun sejak umur 6 tahun, yaitu tahun 1967 dan sempat merasakan pendidikan di SD Fransiscus Assisi dan SDN 01 Menteng di Jln.Besuki.

Dalam perjalanan karirnya, Obama memulai kariernya sebagai seorang organisasi masyarakatnya di beberapa wilayah termiskin di Chicago dan kemudian masuk Harvard Law School, tempatnya dipilih sebagai Presiden Afrika Amerika pertama untuk Harvard Law Review. Tahun 1992, dia memimpin Proyek Illinois VOTE, yang mencatat 150.000 pemilih baru. Dari tahun 1997 sampai 2004, diamenjadi senator Negara bagian selama tiga kali masa jabatan dari South Side Chicago. Selain tugas-tugas legislatifnya itu, dia menjadi dosen senior dalam hokum konstitusional di Univecity of Chicago Law School, pengacara hokum hak-hak sipil, dan duduk di dewan pengarah berbagai organisasi derma. Dan, terakhir dia menjabat sebagai Senator Junior AS dari Negara Bagian Illinois.

Sungguh FENOMENAL. Dan, malam itupun berlalu dengan berbagai kekagumanku akan sosok seorang BARACK HUSSEIN OBAMA.

Ke-esokan harinya, 5 November 2008 (waktu Indonesia), diputuslah hasil penghitungan suara, Obama dinyatakan menang mutlak atas saingannya John McCain, dan resmi menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Dan, entah mengapa, aku ikut senang.

Aku benci Amerika Serikat dengan segala keangkuhan ekonomi dan militernya, tapi aku kagum dengan kegigihan dan kehebatan Presiden AS terpilih ini. Semua itu karena Obama.

Sosok Obama mengingatkan akan Tan Malaka dan Ernesto "Che" Guevara. Dua sosok manusia yang mendapat tempat dihatiku dan selalu memberikan inspirasi. Kegigihan dan semangat pantang menyerah itu yang hari demi hari mamacu diriku untuk selalu berbuat "lebih".

Andai kita semua; Aku, Tan, Che, dan Obama hidup dalam waktu yang bersamaan, ingin kuundang semua berkumpul di "kamar maut", untuk sekedar menyeduh kopi hitam dan menyulut berbatang-batang tembakau racikan tangan lentik pribumi. Dan, imaji kitapun terbang tinggi bersama kepulan asap yang menyesakkan seisi ruang.

Obama, kumasukkan kau ke dalam daftarku!

Jumat, Mei 23, 2008

BBBM (Bener-Bener Bikin Mabok)



"BBM naik tinggi
susu tak terbeli
orang pintar tarik subsidi
bayi kami kurang gizi"

(Iwan Fals)

tadi malam di warteg kudengar seorang pengamen muda, dengan kaos lusuhnya melantunkan bait di atas. sebuah ungkapan tulus dari penderitaan rakyat kecil.

beberapa hari yang lalu, pemerintah mengambil sebuah kebijakan yang sangat tidak populis dengan menaikkan harga bahan bakar minyak. antara lain sbb:

Jenis BBM Harga awal Harga baru
Premium Rp4.500/liter Rp6.000/liter
Solar Rp4.300/liter Rp5.500/liter
Minyak tanah Rp2.000/liter Rp2.500/liter

praktis mulai akhir bulan ini semua harga barang pun akan menyesuaikan untuk merambat naik.

seorang kawan yang mengerti ekonomi (konon sang kawan ini pernah menimba ilmu ekonomi dan meraih gelar sarjana ekonominya dari salah satu universitas terbaik di negeri ini) berkata, kenaikan harga BBM di Indonesia adalah suatu keharusan. dengan lagak sok pintar (ala ekonom) dia membeberkan dengan berpanjang-panjang lebar. mulai dari harga minyak dunia yang sudah melebihi angka USD 120/barrel sampai kondisi keuangan negara kita yang sudah tidak sanggup menyuntikkan subsidi minyak bagi rakyat, dan bla.. bla.. bla.. si ekonom karbitan baru ini-pun terus nyerocos, walau tanpa ditanyai lagi.

setelah beberapa saat ngoceh dan menuangkan segala macam teori dari isi kepalanya yang didapat dari hasil belajarnya selama 3,5 tahun dibangku kuliah, diapun tersenyum puas menatapku. dan akupun hanya bisa terdiam dan terpana takjub mendengar kecanggihan ulasannya.

kemudian akupun bertanya lagi, "jadi kamu setuju dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM saat ini?"
"Ya. itu memang sudah seharusnya dilakukan pemerintah", jawabnya mantap.
"Hmm... Gitu ya?", ujarku bimbang.
aku memang tidak mengerti ekonomi, namun jawaban sang ekonom kerbitan ini memang benar dan sama persis dengan uraian pak wapres di media.

akupun melanjutkan pertanyaan,
"Lalu, bagaimana dengan nasib rakyat kecil? otomatis dengan kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga-harga lainnya; beras, cabe, terong, kentang, dan lain sebagainya?"

"pertanyaanmu, pertanyaan bodoh. sama seperti mahasiswa-mahasiswa konyol yang lagi teriak-teriak di depan istana siang tadi".

akupun tersentak menerima jawaban seperti itu.

"setiap kebijakan pemerintah sudah pasti ada pertimbangan dan kajian mendalam dari para ahli yang ada di setiap departemen maupun kementerian negara. mereka rata-rata doktor dan profesor. mereka itu orang pintar semua. kan sudah sama-sama kita dengar, kalau selain mengeluarkan kebijakan menaikkan harga BBM, pemerintah kembali mencanangkan adanya kebijakan memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang akan diberikan kepada rakyat miskin. kalau ga salah, setiap keluarga miskin mendapatkan BLT sebanyak Rp 100.000,-/bulan. itu untuk membantu masyarakat. saya pikir ga ada masalah di sini". jawabnya.

"hmm... BLT ya? baiklah. terima kasih". akupun sengaja berusaha untuk menghentikan perbincangan yang tidak menyenangkan ini secepatnya.

sesudah meninggalkan sang ekonom itu, akupun merenungkan kembali apa yang telah panjang lebar diuraikannya.

"kondisi keuangan negara, harga minyak dunia, BBM harus naik, mahasiswa konyol, kajian mendalam para ahli dan BLT". kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang.

akhirnya aku terbangun mendengar lantunan adzan subuh dari mushala kecil yang berjarak hanya beberapa rumah dari kamar kosku. ternyata kata-kata sakti sang ekonom tadi malam telah membuatku pusing hingga tak sadarkan diri.

kuambil air wudhu dan shalat subuh. beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh di belakang kamar. anak tetangga menangis dibentak bapaknya yang tukang jahit rumahan itu saat meminta uang jajan untuk berangkat sekolah.

sambil menyulut sebatang class mild, terdengar kembali sayup-sayup lagu "Galang Rambu Anarki"nya Iwan Fals dari kamar tetangga kosku.

"tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku
do'a kami di nadimu"


BBM naik bener-bener bikin mabok...

"Bang Jenggot"
Batavia Darusysyaitan, 23 Mei 2008

Rabu, November 07, 2007

Kembaliku (sebuah kontemplasi)

Suatu pagi, seusai shalat subuh dan saat bersiap untuk melanjutkan rutinitas harianku, ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan singkat dari seorang sahabat lama. Sahabat sekaligus saudara yang cukup lama tak kuhubungi. Pesan singkat yang cukup singkat, yang bunyinya begini: “Aku hanya punya keluarga dan sahabat untuk kembali”.

Karena tergesa-gesa, akupun tak sempat untuk membalas apalagi merenungi isi pesan tersebut.

Adalah Aris Saputra atau Pak De Oshama (Pak De Osh), aku biasa memanggilnya. Sahabat seperjuangan di kota Gudeg, tempat bertanya tentang banyak hal soal hidup serta berdiskusi mengenai hal-hal yang mustahil bagi banyak orang. Dia adalah guru spritualku. Setiap hari bertemu, namun selalu hangat dan penuh tawa dalam buaian kasih persahabatan. Namun, hampir 2 tahun sudah berpisah, aku sudah mengembara dari kota ke kota, namun dia masih terus berjuang mengejar cita di Jogja.

Akhirnya siang hari seusai shalat dzuhur, di sela-sela jeda aktivitas harianku yang cukup melelahkan, aku kembali membaca dan merenungkan isi pesan tersebut. Sontak, batinku terguncang... Terngiang akan memori-memori indah yang pernah dilalui bersama. Aku terdiam dan merasa tertampar! Aku telah melupakan harta paling berharga dalam hidupku. Sahabat!

Lalu kuraih kembali ponselku dan langsung kuhubungi dia. Nada penuh haru dan tawa langsung menyambut di seberang sana. Kata sambutan: “Assalamu 'alaykum Abang Preman!”, dengan derai tawa renyah yang mengirinya, membuat rasa rinduku semakin tebal. Aku terharu... Dalam pembicaraan yang singkat itu, hanya tawa yang menghiasi. Aku senang... Dan tanpa berpikir panjang, akupun berjanji akan datang menemuinya ke Jogja akhir tahun ini. Semoga bisa kukabulkan. Aku berjanji, kawan... InsyaAllah.

Malam ini, menjelang tidur, saat memain-mainkan ponselku. Aku kembali membaca pesan tersebut. Lalu ku forward pesan itu ke adikku tersayang, dan beberapa orang sahabat dekat di Jakarta, Padang dan Singapura.

Dari 6 pesan yang kukirim. 3 orang yang membalas. Mungkin 3 yang lainnya sudah terlelap dalam hening malam.

Balasan yang pertama datang dari adikku, Putri. Isinya: “Manga bang?” atau “Ada apa bang?” dengan nada penasaran. Mungkin dia berpikir aku lagi ada masalah. Padahal tidak. Aku hanya ingin dia tahu, kalau aku merindukannya.

Balasan yang kedua datang dari sahabat di Singapura, Ridha. Sahabat semasa sekolah yang juga bekas teman dekat, sohibku, Jambul. Isi pesannya: “Au ado masalah samo cici? Atau keluarga? Atau hanya sekedar pepatah?”. Sama, ridha juga sepertinya penasaran dengan isi pesan itu. Padahal tidak juga. Aku tidak ada masalah dengan cici maupun keluarga dan pesan itu bukan hanya sekedar pepatah.

Balasan yang ketiga datang dari sahabat di Jakarta, Venti. Sahabat yang baru kukenal dalam beberapa bulan ini, yang juga teman sekantor. Isi pesannya berbeda: “Au belum bobo?”. Hmm... Memang, aku memang belum tidur saat itu.

Dari ketiga balasan tersebut, aku menyimpulkan terkadang memang susah untuk mengungkapkan rasa sayang dan empati kepada orang-orang terdekat. Mungkin mereka mengerti maksud dari pesan singkatku itu, namun yang mereka inginkan adalah kalimat lugas dan langsung tertuju pada mereka.

Tapi, aku bersyukur, secara tersirat bisa kusimpulkan, bahwa aku masih mempunyai orang-orang yang menyayangiku sebagai tempat kembaliku. Tempat aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya. Terlepas dari segala topeng duniawi yang selalu kupakai di saat aku memulai hari-hariku. Topeng kekonyolan, topeng keangkuhan dan bahkan topeng-topeng kebohongan. Hanya kepada merekalah aku menumpahkan segala masalah dan tekanan akibat himpitan beban hidup yang semakin hari, semakin berat menimpaku...

Keluarga dan sahabat adalah harta paling bernilai dalam hidup ini.

Semoga kesibukanku dalam mengejar kekayaan dan rupiah tidak melenakanku untuk meninggalkan mereka. Karena ku yakin, mereka tak akan pernah meninggalkanku.

“Aku hanya punya keluarga dan sahabat untuk kembali”.
Selamat Melanjutkan HIDUP, Kawan!

Menjelang pagi di ruang sempit yang tak terurus

Tempat sampah, sekaligus tempat hidupku


Bang Jenggot

Batavia Darusysyaitan, 5 November 2007